Persoalan sampah masih menjadi masalah dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Bahkan, kepedulian akan salah satu isu lingkungan ini juga mulai dilakukan di kalangan pondok pesantren.
Langkah positif di lingkungan para santri ini ternyata sudah lama dilakukan Coklat Kita melalui program silaturahmi pesantren atau Silatusantren. Bahkan, kegiatan yang menggabungkan silaturahmi dan edukasi ini, sudah berlngsung sejak tahun 2025.
Dan, program Silatusantren tersebut sudah mencapai puncaknya dengan menggelar pertemuan ratusan santri dan pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat. Kegiatan yang dikemas lewat acara Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam ini, digelar di Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, pada 15–16 Januari 2026.
Menurut perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, acara melibatkan 131 pondok pesantren yang masing-masing mengirimkan dua perwakilan santri. Total terdapat 262 santri, ditambah perwakilan 15 wilayah, serta para pimpinan ponpes.
Gunung Puntang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena mengusung tema Tadabbur Alam, yakni mensyukuri nikmat Allah SWT secara kolektif melalui perenungan di alam terbuka.
Dijelaskan Yudi, selain silaturahmi, kegiatan juga disertai dengan edukasi, dan refleksi alam.
“Jadi kita ingin memberikan satu edukasi kepada santri khususnya bahwa tema kebersihan lingkungan itu memang sangat baik bagi pondok pesantren khususnya,” katanya.
“Ini juga agar mereka juga menjadi tahu apa itu sampah, kemudian pemilihan sampah, pengelolaan sampah, pemanfaatan sampah, dan lain sebagainya. Sehingga itu menjadi di ilmu bekal mereka untuk kehidupan baik di pondok maupun di lingkungannya masing-masing,” imbuhnya.
Yudi menambahkan, program Silatusantren tetapa akan dilanjutkan pada tahun 2026 dengan acara dan jumlah wilayah yang hampir sama. “Temanya Bukti, Bakti, Cinta: Pondokku, Lingkunganku, Kebanggaanku,” ungkap Yudi.
Pesantren Jadi Pusat Pembelajaran Nilai Kehidupan
Terkait dengan acara ini, pendiri sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Bojong, Purwakarta, KH. Haji Agus Aliyudin, mengaku sudah sangat merasakan manfaatnya.
“Manfaat paling utama bagi kami adalah bertambahnya literasi. Terus terang, di pesantren belum ada kurikulum khusus tentang pengelolaan sampah. Kegiatan ini menjadi catatan penting dan sangat membantu,” tuturnya.
Menurutnya, rangkaian kegiatan kebersihan lingkungan sebelumnya juga telah dilaksanakan di pesantren-pesantren, melibatkan santri dan masyarakat sekitar.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terbentuk pola pikir baru santri tentang kebersihan dan kepedulian lingkungan. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga pusat pembelajaran nilai-nilai kehidupan,” jelasnya.
Apresiasi juga datang dari perwakilan santri dari Pondok Pesantren Al-Bukhori, Kabupaten Majalengka, Amrin Hakim. “Santri sangat semangat. Ilmu ini penting ketika kami nanti terjun ke masyarakat, sehingga tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Amrin.
Amrin sendiri telah mondok selama 10 tahun di Pesantren Al-Bukhori dan menjadi salah satu perwakilan dari tujuh pesantren yang terlibat dalam program ini.
“Program ini sangat berdampak positif. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi pesantren dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.